Selasa, 19 Agustus 2008

Tentang serial buku Indonesia: Undercover Economy.




Selama beberapa tahun terakhir, saya melakukan beberapa riset sekaligus menulis buku. Sebagiannya dilakukan bersama kolega saya, terutama yang berada di Bright Institute.


Diantara buku yang telah dan masih saya tulis adalah paket buku seri (sebanyak 9 buah buku) yang disebut Indonesia: Undercover Economy. Tiga buah diantaranya telah terbit dan beredar, yaitu: Neoliberalisme Mencengkeram Indonesia, Utang Pemerintah Mencekik Rakyat, dan Bank Bersubsidi Yang Membebani. Ketiganya saya tulis bersama kolega saya, Nasyith Majidi. Dua buah buku lainnya segera terbit, yakni: Bangsaku Tergelincir Minyak dan Kemiskinan yang Tak Terentaskan. Empat buku lainnya masih dalam proses penulisan akhir, yang masing-masing membahas mengenai: APBN, Perdagangan Luar Negeri, Pasar Modal, dan Perkembangan Sektoral.


Pemilihan topik dan metode pembahasan dalam serial tersebut pada dasarnya masih mengikuti alur berfikir ilmu ekonomi yang umum dikenal dalam dunia akademis. Sebagian besar data riset yang diolah pun bersumber dari sumber resmi. Resmi dalam arti dikeluarkan oleh departemen atau lembaga negara di Indonesia, ataupun dipublikasikan oleh organisasi internasional yang otoritatif. Akan tetapi, ada beberapa cara pandang kami yang berbeda secara mendasar jika dibandingkan dengan yang biasa dikemukakan mainstream economist. Salah satu diantaranya adalah ”cara membaca” data-data resmi tersebut, sehingga diperoleh pemahaman yang mungkin sekali amat berlainan.


Saya berambisi agar serial buku ini bisa meningkatkan pemahaman berbagai komponen masyarakat tentang kondisi dan dinamika per­ekonomian Indonesia. Penjelasannya terutama sekali ditujukan ke­pada tokoh-tokoh masyarakat di tingkat nasional dan daerah. Baik mereka yang tergolong para pengambil kebijakan, elit politik, praktisi bisnis, maupun tokoh masyarakat lainnya. Termasuk juga dalam pengertian tokoh di sini adalah elemen masyarakat yang bergiat dalam berbagai gerakan, seperti: gerakan mahasiswa, gerakan sosial, gerakan budaya, dan aktivitas pemberdayaan masyarakat lainnya.


Serial buku ini terutama sekali bersifat penjelasan, dan sedikit melonggarkan kaidah penulisan ilmiah yang ketat dan kaku. Uraiannya bergaya penuturan dan sedikit menggurui. Cara demikian dipakai agar pokok permasalahan yang dibahas lebih mudah difahami. Sekalipun demikian, substansi materi beserta penalaran buku diyakini masih dalam koridor metode keilmuan dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Berbagai sumber sedapat mungkin diinformasikan kepada pembaca, dan hasil penalarannya bisa diuji secara empiris dan atau diperbandingkan dengan cara pandang ilmiah lainnya.


Tentu saja saya tetap berharap, serial buku ini dibicarakan di kalangan peminat ilmu ekonomi, termasuk para mahasiswa yang tengah studi topik-topik yang dibahas.


Semua serial buku Indonesia: undercover economy memang bernuansa ideologis, karena berisi pernyataan sikap sekaligus apa yang mestinya harus dilakukan (normatif) menurut pandangan kami. Bagi kami, semua pokok masalah yang dibahas tersebut memang tidak bisa dihindari akan bersifat ideologis. Masalahnya, mau ditampakkan dengan jelas atau disamarkan (terselubung) sebagai pembenaran status quo. Sebagian penulis hanya bersembunyi dibalik selubung obyektivitas, terutama dengan asumsi keuniversalan ilmu ekonomi. Kami memilih menyatakannya secara jelas dan lugas.


Sedangkan penamaan serial buku Indonesia: Undercover Economy terutama sekali karena dua pertimbangan. Pertama, topik pembicaraan pada kesembilan buku adalah berbicara dalam kasus Indonesia, bukan negara lain. Negara lain hanya sedikit disinggung dalam aspek perbandingan konteks tertentu. Kedua, banyak diungkapkan hal-hal yang selama ini tersamarkan dalam berbagai analisis dari para ekonom arus utama. Ada banyak alat analisa yang diabaikan oleh mereka, termasuk cara membaca data-data makroekonomi Indonesia.


Semoga serial buku ini bermanfaat bagi kebaikan negeri yang amat kucintai, Indonesia.