Minggu, 16 April 2017

TINJAUAN EKONOMI INDONESIA (bagian 2)

Faktor eksternal makin berpengaruh kuat
Kondisi perekonomian Indonesia belakangan sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan keuangan global. Bahkan, cenderung semakin bergantung padanya. Perekonomian nasional tumbuh tinggi dan kondusif jika kondisi global membaik, serta sebaliknya jika memburuk atau tidak stabil. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi selama beberapa tahun dengan mudah melambat, seperti yang terjadi pada tahun 2014 hingga tahun 2016. Goncangan eksternal masih akan menjadi ancaman serius secara terus menerus pada tahun-tahun mendatang.

Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tahun 2016 memang membaik, terutama didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat. Diakui bahwa surplus transaksi modal dan finansial itu lebih karena menurunnya ketidakpastian di pasar keuangan global, meskipun juga ada faktor membaiknya keyakinan atas prospek perekonomian Indonesia. Dengan kata lain, risiko NPI dan terutama neraca transaksi berjalan selalu ada dan bergantung kepada kondisi global.
Sementara itu Neraca Perdagangan berangsur membaik. Perbaikan terutama dikarenakan penurunan laju impor yang lebih cepat daripada penurunan impor. Ekspor nonmigas Indonesia masih terkendala pada terbatasnya produk dan ketergantungan kepada komoditas primer, serta kurang luasnya jangkauan negara tujuan.

Data ekonomi lainnya yang mencerminkan pengaruh faktor eksternal, serta berkaitan langsung dengan tekanan kepada rupiah adalah soal utang luar negeri (ULN) Indonesia. Bank Indonesia mempublikasikan posisi ULN Indonesia pada akhir tahun 2016 sebesar USD310,7 miliar. Meningkat USD17,0 miliar atau tumbuh 5,8% dari posisi akhir 2015 sebesar USD293,8 miliar. Rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat sebesar 36,1%, lebih tinggi daripada 33,0% pada akhir tahun 2014. Sejauh ini, Bank Indonesia memandang perkembangan ULN terkini masih cukup sehat, namun mengaku perlu terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional. Dipastikan bahwa ke depan, Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta. Pemantauan dan pengawasan dimaksudkan untuk memberi keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko besar bagi stabilitas makroekonomi.

Prospek Ekonomi Tahun 2017
Pemerintah dan Bank Indonesia sebagai otoritas ekonomi meyakini bahwa kondisi perekonomian nasional tahun 2017 akan lebih baik daripada tahun 2016. Diantaranya yang dinyatakan adalah: pertumbuhan ekonomi diprakirakan meningkat; inflasi tetap terkendali; defisit transaksi berjalan dapat ditekan; nilai tukar rupiah lebih stabil; dan industri perbankan tumbuh lebih baik. Indikator lain yang juga diprakirakan sekaligus menjadi target akan membaik adalah: pengangguran, kemiskinan, IPM, defisit APBN, nilai  dan indikator beban utang luar negeri.  

Otoritas ekonomi Indonesia melihat perkononomian global semakin menunjukkan gejala pemulihan dan kondisi keuangan global tampak akan lebih stabil. Sementara itu, kondisi perekonomian domestik juga masih dinamis dan terbukti tetap mampu menggeliat tumbuh pada tahun 2016.  Kinerja makroekonomi Indonesia secara umum lebih baik daripada negara-negara lain yang sekelompok kategori. Bahkan, termasuk diantara negara yang tertinggi pertumbuhan ekonominya. Bagaimanapun, Pemerintah dan BI tetap menyadari bahwa risiko akibat gejolak perekonomian global masih dapat menjadi gangguan yang serius pada tahun 2016.

Pemerintah dalam APBN 2017 menyebut target pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 5,1%, inflasi 4,0%, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika di kisaran Rp 13.300. Sementara itu, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 di kisaran 5,1 – 5,4%, dan inflasi terkendali di sekitar titik tengah kisaran sasaran inflasi 4 ± 1%. Sedangkan defisit neraca pembayaran akan bisa dikendalikan pada tingkat di bawah tahun 2016. Khusus neraca transaksi berjalan juga diyakini oleh BI akan menurun defisitnya atau setidaknya terkendali di kisaran 2% dari PDB. Dengan prakiraan ini, ditambah asumsi keuangan global yang lebih stabil, maka nilai rupiah pun diyakini tidak akan bergejolak.


Sebagaimana yang ditargetkan APBN 2017, beberapa hal berikut tampaknya secara umum bisa dicapai: turunnya jumlah penduduk miskin dan angka kemiskinan, turunnya jumlah penganggur dan angka pengangguran, serta naiknya Indeks Pembangunan Manusia. Akan tetapi, dengan melihat kondisi terkini dalam tataran global dan dinamika perekonomian domestik, maka tingkat capaian mungkin sedikit di bawah yang ditargetkan.